Jl. Brigjen Katamso No. 04, Yogyakarta Telp : (0274) 372975
KIRIMKAN ARTIKEL ATAU FOTO ANDA MELALUI EMAIL : perpusmim@gmail.com

Minggu, 02 April 2017

Lanjutan 1

Karya : SANDY 9A/08

Cerita Rakyat Dari Lombok
DAN LALA SERUNI


Suatu malam di bulan purnama,Raja Lombok pergi bersembahyang ke Pura Kayangan.Pada waktu itu,Raja Lombok masih beragama Hindu,begitu pula rakyatnya.Malam bersinar terang-benderang,di sekitar pura dipasang lampu minyak kelapa sehingga pelataran pura itu semakin terang.Di pura itu hadir pula sepasang pengantin baru bernama Demung Sandubaya dan istrinya,Lala Seruni.Sandubaya adalah adik Demung Brangbantun,sedangkan Lala Seruni anak dari Rangga Bumbang.Baru sebulan mereka menikah.Pagi-pagi sekali berangkatlah Sandubaya bersama rombongan raja ke hutan Gebong.Sewaktu Sandubaya sedang asyik mengejar rusa,tiba-tiba beberapa orang prajurit raja menombaknya dari belakang.Sandubaya pun terjatuh dari kudanya dengan berlumuran darah.




Karya : Putri Sang Pesona

Cerita Rakyat dari Riau
MAMBANG LINAU

Bujang Enok hidup sebatang kara tanpa keluarga. Ia tinggal di sebuah pondok reot dan demi mencukupi kebutuhan hidup, ia harus mengumpulkan kayu bakar untuk dijual.
Suatu hari ia dihadang ular saat akan mencari kayu di hutan. Bujang Enok melecut ular itu dengan rotan sebambu peninggalan ayahnya. Setelah ular tersebut mati dan Bujang Enok hendak melanjutkan perjalanan, tiba-tiba dia mendengar suara-suara perempuan. Namun karena mendapati tak ada seorang pun di dekatnya, Bujang Enok mengabaikannya.
Sepulangnya dari hutan, Bujang Enok heran ada banyak makanan yang sudah terhidang di rumahnya. Bujang Enok yang penasaran memutuskan mengintip dari kejauhan keesokan harinya demi mencari tahu siapa yang menyiapkan makanan-makanan tersebut.
Setelah Bujang Enok mengintip dari kejauhan, ada tujuh orang gadis datang beriringan dari lubuk hulu sungai menggotong makanan menuju ke rumahnya. Ternyata ketujuh gadis itu adalah  dewi yang berterimakasih karena Bujang Enok telah membunuh musuh mereka, ular yang tadi dibunuh di hutan.
Ketujuh putri itu lalu berganti pakaian dengan kain mandi setelah keluar dari rumah. Bujang Enok mengikuti mereka kemudian menyambar selendang pelangi warna jingga milik putri yang paling cantik.
Ketika si putri kebingungan mencari selendangnya dan melihat Bujang Enok membawanya, si putri memohon selendangnya dikembalikan. Bujang Enok bersedia mengembalikannya dengan syarat putri cantik yang ternyata bernama Mambang Linau itu harus mau menikahinya. Mambang Linau bersedia dan mereka pun menikah, dengan syarat Mambang Linau tidak boleh menari di kesempatan apa pun.
Sejak menikah dengan Mambang Linau, Bujang Enok semakin terkenal di kampungnya dengan sifat pemurahnya. Kepemurahan hati Bujang Enok itu terdengar oleh Raja yang berkuasa di negeri itu. Kemudian sang Raja pun memanggil Bujang Enok menghadap kepadanya untuk diangkat menjadi Kepala Kampung.
Setiap mengadakan pesta, sang Raja selalu mengundang Bujang Enok. Suatu hari, sang Raja mengadakan pesta di istana. Dalam pesta itu wajib diisi dengan tari-tarian yang dipersembahkan oleh dayang, istri pembesar istana, istri para penghulu dan kepercayaan raja, termasuk istri Bujang Enok.

KARYA : Chandrawilasita 9C/03

Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara

SI DUNGU


Dahulu kala disebuah hutan, dikisahkan tentang ibu yang memiliki anak dan diberi nama Dungu.  Mereka hidup tentram, aman,  dan bahagia. 
Suatu hari,  Dungu pergi ke hutan untuk memasang jerat ayam. Beberapa hari kemudian,  Dungu berniat untuk melihat jeratnya.  Banyak ayam yang terkena jerat.  Karena si Dungu tidak tahu apa yang harus dia lakukan pada ayam itu. Maka ia melepaskan semua ayam itu. Si Dungu selalu memberitahukan kepada ibunya tentang apa yang telah terjadi saat dia berburu dihutan. Sang ibu merasa si Dungu selalu salah memperlakukan hewan buruannya, karena itu ibu selalu memberi nasihat  untuk si Dungu. Tetapi si Dungu selalu salah memahami nasihat ibunya. Dan itu membawa petaka bagi si Dungu itu sendiri. 





KARYA : RIZKI 9A/09
SINOPSIS KEONG EMAS
Dewi Galuh candra kirana adalah putri raja yang memerintah kerajaan daha. Belum lama candra kirana dipertunangkan dengan Raden Inu Kertapati , kebanyakan orang ikut bergembira menyambut pertunangan agung itu. Namun tidak demikian dengan galuh ajeng. Ia cemburu karena ia juga ingin menjadi istri Raden Inu Kertapati , guna mendukung rencana jahatnya Galuh ajeng menemui nenek sihir. Agar mencelakakan Dewi Candra  kirana. Karena kutukan tukang sihir jahat , sang putri berubah menjadi seekor keong , dan ia terbawa ombak dan terdampar disebuah desa. Didesa itu tinggal seorang nenek pencari ikan , saat mencari ikan ia menemukan keong emas. Nenek tersebut mengambil dan membawanya pulang. Beberapa  hari telah berlalu , nenek dadapan berangkat ke pantai untuk mencari ikan.
Sayangnya hari itu ia tidak mendapat seekor pun ikan dan kemudian ia pulag kerumah. Sesampainya dirumah ia heran , Karena banyak makanan yang lezat. Peristiwa itu diulang terus dan suatu hari  ia  berpura pura utk pergi berangkat mencari ikan. Ia bersembunyi di semak semak mengintai di dalam. Ia terkejut melihat keongnya bersinar dan muncul menjadi putri lama kelamaan nenek itu tidak dapat menahan diri untuk keluar dari persembunyiannya. Putri itu terkejut!. Saya dikutuk oleh saudara saya , oh rasa iri bisa menyesatkan. Dan nenek dadapan berdoa agar kutukannya bisa hilang.
Suatu hari , saat panas terik membuat Raden Inu Kertapati kehausan saat itu ia melihat gubuk dan ingin meminta minum. Dan terjadilah pertemuan yang mengharukan  ,  Raden Inu Kertapati bertemu Candra Kirana kemudian Raden Inu Kertapati membawa Candra Kirana tunangannya ke istana dan akhirnya menikah.


Karya : Alex
Cerita dari Sumatera Utara
LEGENDA TINGGI RAJA

Di daerah Simalungun terdapat sebuah gunung yang terhampar hutan lebat dan pemandangan alam yang indah. Pada zaman dahalu Gunung Tinggi Raja adalah suatu kerajaan yang dipimpin oleh Raja Purba Langit, beliau memperoleh beberapa putri yang cantik yang salah Seorangnya di antaranya yang luar biasa cantiknya. Pada suatu masa tiba saatnya untuk Penyelenggarakan upacara menanam padi di ladang kepunyaan Raja Purba Langit tetapi putrinya yang luar biasa cantiknya tidak diperbolehkan ikut. Setelah semua orang mengikuti upacara itu putrinya di rumah sendiri ditemani sang nenek, lalu datanglah sang nenek lalu bertanya kepada putri mengapa engkau bersedih, lalu putri menceritakan semuanya. Sang nenek pun menyuruh putri untuk memasak air lalu memasukkan daging sampai daging menjadi lembek lalu menyuruh sang putri masuk ke dalam air mendidih itu lalu berubahlah sang putri menjadi merpati. Merpati itu menuju ke tempat dimana upacara itu diadakan terbanglah merpati di atas orang banyak dan mengeluarkan suara yang merdu, lalu sang Raja mendengar suara merpati yang mirp dengan suara putrinya teringatlah sang Raja kalau ibu dan putrinya belum makan. Setelah dipanen Raja menyuruh seorang prajuritnya untuk mengambil makanan terenak lalu mengantarkannya ke istana. Di tengah jalan prajurit itu merasa lapar lalu makan setengah dari makanan yang akan dibawanya ke istana sesampainya di istana ia memberikan makanan itu kepada ibu raja. Sang nenek mengetahui bahwa itu adalah makanan sisa lalu ia marah sekali ia membaca mantra dan lama kelamaan lava dari tanah meluap sehingga seluruh rakyat desa itu hangus dan lenyap dan terbentuklah Gunung Tinggi Raja


'

'
'