Angklung is My Life
Cerpen : Annisa (9E)
Di siang hari yang cerah ini, aku baru saja pulang dari
sekolah. Rasanya sangat lelah sekali hari ini. Beberapa puluh meter lagi aku
akan sampai di rumahku. Tiba-tiba, ada suara yang mengagetkanku.
"Hai, Ayu!" sapa Rina ceria.
"Hai juga, tapi bisakah tidak
mengagetkanku?" kataku.
"Bisa, tapi ada yang ingin kuceritakan
kepadamu," kata Rina.
"Apa itu?" kataku penuh tanya.
"Aku dipilih menjadi salah satu peserta Festival Budaya Nasional. Aku didaulat menjadi salah
satu anggota grup angklung se-Jawa Barat," cerita Rina dengan penuh
semangat.
"Wah, hebat sekali! Tapi kenapa harus angklung?
Memangnya tidak ada alat musik lainnya?" tanyaku sedikit malas.
"Lho, kamu ini bagaimana? Orang tuamu kan pemain
angklung profesional? Masak anaknya tidak menyukai angklung? Lagi pula, ini kan Festival Budaya Nasional ? Kita sebagai remaja
Indonesia harus melestarikan budaya nasional, salah satunya adalah alat musik
angklung ini," kata Rina bercerita.
"Ooh, begitu. Tapi aku tidak menyukai angklung.
Sangat. Jadi, aku memilih alat musik lainnya. Lagipula, orang tuaku tidak berpengaruh
dengan apa yang aku suka. Oh, ya, rumahku sudah dekat. Sampai jumpa,
Rina," kataku dengan sedikit tergesa-gesa.
"Sampai jumpa," kata Rina.
Sesampainya di rumah...
"Selamat siang, Ayah, Ibu," kataku sambil
mencium tangan mereka.
"Selamat siang," kata kedua orang tuaku.
"Ayu, sekarang kamu istirahat, ganti baju, lalu
makan siang bersama ya, Nak," kata ibuku.
"Baik, Bu," jawabku.
Aku pergi ke kamarku lalu mengganti seragam sekolah
dengan baju biasa. Aku merenungkan kata-kata Rina tadi.
"Sebenarnya, apa ya yang membuat orang tertarik dengan angklung?"
tanyaku pada diri sendiri.
Sampai
saat ini aku juga masih bingung kenapa teman-temanku menyukai angklung
sedangkan aku tidak. Bagiku, angklung merupakan alat musik yang sangat
susah untuk dimainkan. Maka dari itulah aku tidak menyukai angklung walaupun
kedua orang tuaku musisi angklung terkenal di Jawa Barat. Di tengah lamunanku,
ibu memanggilku,
"Ayu, ayo kita makan siang bersama!" kata ibu.
"Baik, Bu," jawabku.
Aku pun lalu turun ke ruang makan. Saat makan siang, aku
bertanya sesuatu kepada Ayah.
"Ayah, kenapa Ayah menyukai alat musik angklung?"
tanyaku kepada Ayah.
"Begini, Ayah tahu bahwa angklung itu alat musik
tradisional. Untuk membuatnya, diperlukan keahlian
khusus. Dan untuk memainkannya tidak dibutuhkan kemahiran khusus namun perlu
mempunyai ketekunan yang tinggi. Entah mengapa, saat Ayah pertama kali
mendengar orang memainkan angklung, hati Ayah damai lewat suara yang dihasilkan angklung
dengan berbagai nada. Sejak saat itulah ayah menyukai angklung dan bercita-cita
menjadi pemain angklung profesional seperti saat ini," jawab Ayah.
"O, begitu ya, Yah. Kalau begitu, Ayu
sadar, selama ini Ayu memandang rendah angklung sebagai alat musik yang susah
dimainkan. Ayu berjanji akan mulai menyukai angklung dari sekarang,"
ucapku dengan sungguh-sungguh.
"Bagus kalau begitu. O ya, satu lagi. Apakah kamu
berminat menjadi peserta Festival Budaya Nasional sebagai grup musik angklung yang mewakili
Jawa Barat?" tawar ayahku.
"Ya, Yah. Aku mau. Sama seperti Rina, bukan?"
tanyaku kepada Ayah.
"Ya, dan teman-temanmu yang lain juga akan
mengikutinya," kata ayahku.
Mulai hari itu, aku, Rina, dan remaja-remaja di daerahku
berlatih bermain angklung untuk Festival Budaya Nasional yang akan digelar di Jakarta dua bulan
lagi. Hari demi hari berlalu. Aku dan teman-temanku semakin giat
berlatih. Apalagi, pelatihnya adalah ayahku. Saat berlatih, aku semakin sadar bahwa
angklung bukan hanya alat musik, namun juga warisan budaya bangsa Indonesia.
Saat hari perlombaan Festival Budaya Nasional...
"Orkestra Angklung dari Jawa Barat dipersilakan
bersiap-siap di belakang panggung," panggil sang pembawa acara.
Grup orkestra angklungku tampil dengan semangat dan
percaya diri. Kami membawakan berbagai macam lagu daerah di Indonesia. Kami
tidak ingin mengecewakan ayahku yang sudah melatih kami selama berbulan-bulan.
Sepuluh menit kemudian, kami selesai tampil, dan mundur ke belakang panggung.
Setelah semua sudah tampil, kini giliran pengumuman pemenang. Kami yang berada
di kursi peserta berharap-harap dengan cemas apakah kami bisa menang atau
tidak. Tiba-tiba terdengar suara...
"Dan pemenang pertama pada Festival Budaya Nasional ini
adalah... Orkestra Angklung dari Jawa Barat, selamat kepada pemenang!"
kata sang pembawa acara.
Kami pun maju ke panggung dengan hati yang gembira. Tidak
sia-sia perjuangan kami selama ini. Semenjak itu aku dan grup orkestra
angklungku kerap dipanggil untuk pentas di berbagai kota hingga ke luar negeri.
Kini aku bisa bangga menjadi remaja Indonesia yang mencintai bangsanya dengan
memperkenalkan salah satu kebudayaannya. Ayo remaja Indonesia, jadilah penerus
bangsa yang setia dan menghargai setiap warisan budayanya. Kalau bukan kita,
siapa lagi?